Thursday, October 28, 2010

Janganlah Kau (Indonesia) Semakin Senjang Saja

ya. akhirnya saya menulis lagi di note fb ini setelah hampir 4 bulan absen menulis. Di sini saya pengen share saja. Sebuah oleh2 setelah saya pulang dari Ho Chi Minh City (HCMC).

Apa yang anda pikirkan tentang Vietnam? Mayoritas orang Indonesia berpikir bahwa Vietnam adalah negara yang miskin. At Least lebih miskin dari Indonesia. Kalau dilihat dari pendapatan nasional atau pendapatan perkapita atau daya saing perdagangan atau perangkat ekonomi makro lainnya secara statistik Indonesia pasti lebih tinggi dari Vietnam.

Ben Than--Sebuah Pasar di HCMC

Tapi bagi saya pribadi menurut yang saya pelajari ketika dulu saya mengambil mata kuliah "Masalah Negara Berkembang" saya melihat bahwa masalah kesejahteraan suatu negara bukan hanya dilihat dari seberapa banyak pendapatan perkapitanya namun juga bagaimana distribusi kekayaan itu berjalan atau dalam bahasa lainnya Pemerataan.

Bagi saya salah satu masalah krusial yang ada di Indonesia adalah masalah kesenjangan sosial.Kalau tidak salah (kalau salah mohon di koreksi) 56% kekayaan di Indonesia ini dimiliki oleh 0,2% penduduk Indonesia..Sangat fantastis bukan..

Banyak sekali Ironi di sini. Yang satu sangat kaya memiliki harta berlimpah, hingga bingung mau dikemanakan hartanya. Eh yang satunya sangat miskin sekali rumah tidak ada, tidur dimana saja, makan senin kamis dll.

Artinya kekayaan maupun sumber produksi di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang.. Lama-lama Indonesia ini bisa jadi negara plutokrasi, negara yang dikuasai oleh segelintir orang-orang kaya (lihat saja persentase kekayaan yang sangat bombastis di atas)

Satu hal saya pelajari dari Vietnam, yakni pemerataan secara ekonomi.

Di Vietnam saya datang ke Ho Chi Minh City (HCMC), Vietnam Selatan kota yang didaulat sebagai kota bisnis di Vietnam, sedangkan kota pemerintahan ada di Hanoi, Vietnam utara. Saya ibaratkan kota ini seperti Jakarta, karena dia adalah pusat bisnis, sering banjir karena banyak sungai (atau mungkin sanitasi buruk), dan MACET..!!

Sejak saya tiba di Ho Chi Minh hingga akhirnya balik lagi ke Indonesia (3-11/10) saya sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah melihat Pengemis, Gelandangan,dan Pengamen. Saya benar-benar terkesima. beberapa hari saya dan teman saya Nurul Huda Rosadi mencari- cari gelandangan, pengemis, dan pengamen, namun nihil, namun menurut teman saya yang satu lagi Mbak Uli dia melihat gelandangan di salah satu Mall di tengah kota.. Okey, mungkin terlalu naif kalau di bilang tidak ada, mungkin ada di lipatan-lipatan kota, tapi sungguh saya belum menemukannya.

Notre Dame

Well, hal yang pertama ada dipikiran saya adalah "Mungkin karena negara ini adalah komunis sehingga kesamarataan dan kepemilikan alat produksi ada dalam kontrol negara dan semua orang mendapat sesuai dengan apa yang dia kerjakan,".. Jangan bayangkan Komunis selalu identik dengan bom atom pembunuhan massal, nuklir dan perang dunia.. Hellloooo,hari gini masih pake cara pikir jaman perang dingin..!!! :D

Negara komunis bukan dimana setiap orang memiliki rumah, baju, sepeda, motor yang sama..Wow, sempit sekali dan entah definisi yang muncul dari mana. Komunis ala vietnam ini saya kira tidak seortodoks usulan Marx. Karena masih ada MNC seperti KFC (tpi setau saya di ho chimin cuma ada 2), Pizza hut (1), dan lain2.. Tapi inti kekomunisannya itu bukan serta merta menolak MNC seratus persen. Menurut hemat saya mereka membolehkan MNC maupun investasi dan modal asing masuk namun semuanya masih ada dalam kontrol pemerintah bukan berarus dalam liberalisasi pasar (yg ternyata tidak seliberal namanya).

Sebenarnya, masyarakat vietnam juga pada banyak yang pake mercy, bmw, vw, lexus, dan mobil mewah lainnya.. Tapi juga tidak ada yang pengemis yang pura-pura buntung atau pura-pura buta.

Balik ke permasalahan awal, saya kira Vietnam cukup concern pada masalah pemerataan dan distribusi kekayaan negara,memang tidak bisa atau tidak mungkin setiap orang memiliki jumlah harta kekayaan yang sama, tapi tidak juga jurang ekonomi itu semakin dalam dan lebar.

saya berharap Indonesia bisalah belajar pemerataan pada Vietnam. Saya tidak lantas mengusulkan Indonesia menjadi Komunis (bisa di tembak di tempat saya). Kemiskinan dan kesenjangan memang masalah yang berkelanjutan dan enatah sampai kapan berakhir di Negeri tercinta ini. Saya kira juga kita janganlah terlalu mengagung-agungkan ekonomi makro dengan indeks pendapatan perkapita, pendapatan nasional tanpa melihat faktor pemerataan.

Jangan malu untuk belajar pada negara (yang katanya) lebih kecil dan miskin dari kita. Karena mereka juga punya sesuatu yang penting yang kita tidak punya..

Sunday, August 22, 2010

Mengcandidkan Emosi

Foto-foto ini saya jepret sekitar bulan maret 2010. Di sebuah pantai tak bernama, terletak antara pantai parang tritis dan pantai depok Jogjakarta. Terdapat dua orang wanita yang sedang menjerit, menangis. Spekulasi saya hingga kini, kedua wanita tersebut baru mengalami patah hati. Entah benar entah tidak. namun saya berupaya mengcandidkan emosi mereka.




Monday, August 16, 2010

Bukan Puja Puji Cintaku. (sumber foto: google)

Heii,
Selamat Ulang Tahun,
Aku bahkan masih mencintaimu seperti dulu,
Bukan karena hegemoni orde baru,
Maupun trend sok nasionalis.

Hei,
Ingat dulu,
Ya setidaknya sekitar 4 tahun yang lalu,
Kita selalu memperingati ulang tahunmu dengan lomba balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, memindahkan belut, dan
tentu saja yang paling ku takuti lomba lari
sambil mengapit balon.
sungguh saat ini aku memaknaimu dan ulang tahunmu bukan lagi sebagai sebuah euforia tahunan peringatan kran kebebasan. Semakin tua aku melihat itu sebagai kamuflase semata. Atau mungkin kemeriahan itu hanya sejenak nafas pelega kepenatan luluh lantakmu?

ntahlah..
aku memaknaimu dengan refleksi.
Ya bukan hanya refleksi dengan diskusi yang rumit, pembacaan situasi nasional di berbagi sektor perekonomian, politik, sosial, budaya, dan teknologi. Aku rasa itu tidak cukup sayang. Kau perlu refleksi tubuh, pijatan kaki dan kepala. Kata ERK, Kau perlu cuci muka biar terlihat segar sayang. Apakah karena tuamu? Atau mereka yang memperlakukanmu?
Mungkin kau sangat letih untuk kembali mengukir sejarah.

Kau tahu, cintaku tidak bergeser barang sedikit pun.
Tapi aku mencintaimu dengan hal yang berbeda.
Kau tau, cinta bukan hanya sekedar puja puji atau pun pembelaan tanpa logika.
Mengkritisimu itu caraku.
Ah, bukan dirimu tapi mereka yang memperlakukanmu tepatnya.

Sungguh, sedihku tiada tara sayang. Perlahan dirimu dan harga dirimu terjual terjual demi hutang yang katanya demi mempercantikmu. Perlahan tapi pasti kau tergadai dengan Structural Adjustment Program dari tuan takur dunia. Kau pikir aku sudi membiarkanmu seperti itu?

Ini aku Indonesia, terlahir dengan cara mencintaimu yang berbeda. Banyak orang menganggap bahwa menghanyutkan diri (bukan terpaksa hanyut) dalam pusaran modal global adalah sebuah trend yang wajib diikuti seperti model baju.atau jika tidak akan dianggap tertinggal. (ah, tertinggal, menurutku itu hanya mitos yang diciptakan). Tapi mereka membuatmu menghanyutkan diri, bukan menahan diri untuk tidak hanyut. atau setidaknya terpaksa hanyut.

Doaku padamu tiada henti.
Mungkin saja kau akan sinis padaku atas semua pendapat satir-ku pada mereka yang memperlakukanmu. Sungguh, aku tidak pernah mellihatmu sebelah mata!
Karena kau adalah untuk apa aku belajar.

Lekas bangun dari tidur berkepanjangan.
Menyatakan mimpimu.
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu.
Masih ada cara menjadi besar.
Memudakan tuamu.
Menyemai dan
MENJADI INDONESIA!!

Poda


Angur do goarmi anakkon hu (nama mu sungguh harum anakku)
Songon bunga bungai nahussusi (seperti bunga bunga yang indah itu)
Molo marparange na denggan doho (jika kau memiliki kepribadian baik)
Diluat nadaoi (ditempat mu yang jauh)
Jala ikkon ingot doho (dan ingat lah selalu)
Tangiang mi do parhitean mi (doa adalah salah satu landasan)
Dingolumi da tondikku (kehidupan mu oh anak kesayangan ku)

Unang sai mian jat ni rohai (jangan pelihara iri dengki)
Dibagasan rohami (didalam hati mu)
Ai ido mulani sikka mabarbar (karena itu adalah permulaan malapetaka)
Da hasian (oh anakku)
Ikkon benget do ho marroha (engkau harus tawakal hati)
Jala pattun maradophon natua tua (dan hormat kepada orang-orang tua)
Ai ido arta na ummarga i (karena itu adalah harga yang termahal)
Dingolumi (dalam kehidupan mu)

Reff.
Ai damang do sijujung baringin (engkaluah adalah penerus tahta)
Di au amang mon…. (bagi ku orang tua mu)
Jala ho do amang silehon dalan (dan engkaulah si perintis jalan)
Di Anggi Ibotou mi
(bagi adik adik mu ini)
Ipe ingot maho amang
(dang ingat lah selalu)
Dihata podakki
(seluruh petuah ku ini)
Asa taruli ho amang
(agar kau mempunyai kehidupan)
Disihadaoani
(di tempatmu yang jauh)

Molo dung sahat ho tu tano parjalangan mi (kalau kau sudah tiba di tempat tujuan mu)
Marbarita ho amang
(berikan kami berita mu)
Asa tung pos rohani damang nang dainang mon
(agar hati kami tidak was was)
Ditano hatubuan mi
(ditanah kelahiran mu ini)

Thursday, August 5, 2010

Hujan

Hujan buat saya punya filosofi tersendiri.
Saya suka hujan dan akan selalu suka :)







Jiwa dan Raga Untuk 146 Halaman Ini

Akhirnya, besok saya akan di dadar.
Selamat!
Besok saya akan jadi telur dadar..


Tuesday, August 3, 2010

Menghadiahi Diri Sendiri

Seperti saya sering menghadiahi orang lain. Terkadang saya ingin menghadiahi diri saya sendiri. Terlepas dari barang yang ingin saya punya untuk diri saya sendiri seperti Ipod, Gitar, Perpustakaan dan lain-lain, saya ingin menghadiahi saya sebuah kedewasaan dan kebijaksanaan. Saya ingin sekali menjadi orang yang bijak yang bisa melihat sesuatu hingga keakar-akarnya sehingga di ujung sikap ia akan memiliki tindakan maupun putusan yang tepat.

Saya ingin menghadiahi diri saya sebuah sikap tidak terburu-buru. Ini pasti akan saat menyenangkan saat diriku bisa berdiskusi dengan diriku sendiri. Bukan berarti ini autis yang selalu terhanyut dalam dunia subjektifitas. Apakah saya menandai diriku sendiri subjektif?
Entahlah..

Sampai saat ini saya belum tahu akan menghadiahi apa untuk dirisaya yang akan kembali berkurang umurnya. Tapi sempat tersirat ak saya ingin memberi hari-hari yang teduh yang selalu dekat dengan Allah. Saya berharap ini adalah hadiah terindah untuk saya ditahun ini dan selanjutnya.

Namun sungguh saya ingin menghadiahi diri saya barang ini :D