Friday, July 30, 2010

Well. aku sedang bersiap diri dengan tekanan-tekanan di depan!

Baca sms dari boss (baca: orang tua) tadi pagi serasa dapat alarm peringatan bahwa hidupku ke depan akan semakin berat. Setahun belakangan ini boss selalu memaksa cepat lulus lah, kalau udah lulus cepat kerja, katanya biar bisa bantuin beliau sekolahin adek-adek. Boss sering mengeluh kalau beliau sudah lelah cari uang (mungkin ini hanya keluhan saja biar aku cepat selesai kuliah, kemudian bekerja. )

Sms tadi pagi menyatakan bahwa adekku tidak bisa masuk universitas negeri dan kemungkinan besar dia akan masuk universitas swasta yang notabene biayanya mahal. Aku yakin boss asti akan semakin menekanku untuk sesegera membantunya menyekolahkan adekku ini.
Aku tidak mau protes pendidikan mahal di sini. Toh juga pada kenyataannya adikku yang tidak masuk universitas negeri. Ntah apa pun alasannya, saat ini aku benar-benar geram pada adikku. Karena aku yakin, aku pasti terkena efek domino kegagalannya itu.

Pagi ini pun aku mulai berpikir tentang menghasilkan uang. Benar kata boss, aku harus bantu beliau. Karena memang pada hakikatnya aku tidak bisa melihat orang tuaku harus terus bekerja terlalu keras. Ku tasbihkan niatan agar tak lagi hidup telalu boros lagi.

Sepertinya aku sudah masuk ke tahap kehidupan. Jika dulu aku yang di bantu orang tua maka kini aku harus bantu orang tua. Ya beginilah nasib anak pertama, jadi tulang punggung. Bukannya tidak ikhlas. Mungkin di awal-awal aku akan merasa berat, karena hidupku mungkin tidak akan sesantai hari sebelumnya. Tekanan tekanan juga pasti akan bertubi. Habis wisuda pasti akan langsung di tanya kapan kerja. Kalau sudah kerja dan gajinya biasa saja pasti akan di suruh cari kerja dengan gaji yang lebih besar..

Bukannya tidak ikhlas, aku akan berusaha ikhlas walaupun nanti pasti kebebasanku dalam mengambil keputusan akan sering mendapat intervensi. Mudah-mudahan saja ini awal yang kemudian akan membuat aku lebih dewasa.

Well. aku sedang bersiap diri dengan tekanan-tekanan di depan!

Thursday, July 29, 2010

Senam Otak, Terapi Meminimalisir Gejala Autisme

Berita ini sebenarnya saya tulis pada bulan Maret 2010. Namun yang paling membuat saya terkesan adalah bahwa berita ini secara riil berguna bagi orang lain. Saya senang. Saat itu berita ini terpublish di sebuah koran yang memiliki segmentasi pasar Jawa Tengah dan Jogjakarta. Kemudian terbaca oleh seorang bapak dari Semarang yang anaknya mengalami Autisme. Dengan semangat, bapak ini menelelepon ke kampus saya untuk meminta nomor Revani agar bisa berkonsultasi mengenai senam autis tersebut. Revani adalah narasumber dalam berita ini sekaligus yang menggagas ide senam untuk anak autis ini. Intinya, apa yang saya tulis pernah berguna untuk orang lain :)



Senam Otak, Terapi Meminimalisir Gejala Autisme

Secara psikologis, autisme dipahami sebagai keadaan seseorang yang lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Sehingga sering kali penyandang autis selalu sibuk dengan ‘dunia’nya sendiri. Di Indonesia, pada tahun 2009 diperkirakan ada 475 ribu penyandang autis. Sedangkan di wilayah DIY ada 357 anak autis yang tersebar di 61 SLB di lima Kabupaten di provinsi DIY.

Autisme memang merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada gangguan bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Namun, walaupun gangguan neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa diminimalisir dengan menggunakan terapi. Namun biasanya terapi sangat mahal berkisar 750 ribu sampai 3 juta per bulan, tergantung kebijakan penyelenggara terapi.

Mahalnya biaya terapi inilah yang kemudian melatarbelakangi sekelompok mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KU-UMY) yakni Revani Dewinta Lestarin, Yunita Puji Lestari, Muhammad Nor Tauhid, dan Ragil Adi.S, memilah terapi untuk mengurangi gejala autisme yang tidak menghabiskan biaya terlalu besar.

”Ada terapi yang murah dan bisa digunakan bukan hanya di SLB saja, namun bisa juga dilakukan di rumah yaitu senam otak atau Brain Gym,”ungkap Revani saat ditemui di Kampus Terpadu UMY, Sabtu (6/2).

Menurut Revani berbagai gejala autisme, beberapa di antaranya seperti mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengeri orang lain, tidak ada usaha untuk berinteraksi dengan orang lain, memiliki perilaku ritualistik, Sering mengamuk tidak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif bisa diminimalisir dengan senam otak tersebut.

“Terapi senam otak ini bisa menjadi salah satu solusi karena senam merupakan teknik elektrik yang membantu otak dan tubuh bekerja lebih efektif secara bersamaan,”paparnya. Gerakan senam otak juga meningkatkan komunikasi otak, ada tiga komunikasi yakni komunikasi otak kanan dengan otak kiri, otak depan dan otak belakang, serta otak atas dan bawah. Komunikasi ini berguna untuk meningkatkan efisisensi dari informasi sensorik yang paling berguna bagi autis.

“Gerakan dalam senam otak pun bervariasi seperti membuat coretan ganda dalam waktu bersamaan, menggelakkan anggota tubuh menggerakkan secara bergantian pasangan kaki dan tangan yang berlawanan, menaktifkan tangan, melambaikan kaki dan masih banyak gerakan yang lainnya,”paparnya.

Saat ini Revani dan tim sedang melakukan penelitian mengenai pengaruh senam otak terhadap kualitas komunikasi, interaksi sosial dan pemfokusan pemahaman pada anak autis di dua SLB di Yogyakarta, yakni SLB Bina Anggita Banguntapan Bantul Yogyakarta sebagai sampel dan SLB Dian Amanah Sleman Yogyakarta sebagai kontrol.

”Di SLB Bina Anggita kita melakukan terapi senam otak terhadap anak-anak autis di sekolah tersebut, sedangkan di SLB Dian Amanah tidak kita lakukan, Sehingga kita bisa melihat perbandingan antara penderita autis yang di beri terapi senam otak dan yang tidak di beri,”ungkapnya.

Menurut Revani, senam otak cukup dilakukan dalam waktu 15 menit saja sehari. “Dalam waktu 15 menit itu sudah mampu mengurangi gejala-gejala autisme tersebut,”paparnya. Revani dan tim juga membagikan CD senam otak kepada orang tua siswa di SLB Bina Anggita, agar para orang tua bisa secara kontiniu melakukan senam otak pada putra-putrinya.

“Harapan kita, Senam otak ini bisa menjadi terapi alternatif yang murah dan praktis bagi penderita autis, di tengah-tengah mahalnya biaya terapi,”tandasnya.(adit)

NB: Foto saya ambil dari Google.

Wednesday, July 28, 2010

Malay Minded

Sepertinya memang ini yang terjadi di Indonesia saat ini, Malaysia Minded. Mulai dari lagu sampe pilihan kuliah. Kalo dari industri musik Indonesia mah gak usah di tanya. Lagu mendayu-dayu jadi selera pasar sekarang. Semakin mendayu dan akhirnya me-layu. Band-band dengan gaya dan lagu seragam serta kurang bermutu mendadak menjadi idola atau di bentuk jadi idola, atau pemiliki modal menciptakn iklim pasar yang menjadikan mereka idola. Semua bisa saja terjadi, karena toh selera pasar bisa diciptakan. Wah jangan jangan, pemilik modalnya ne yang seleranya rendah. Kok genre yang diciptakan jadi selera pasar yo kok begitu plus rangkaian kata yang amburadul, repetasi kata yang bikin pusing dan yang pasti mendayu-dayu. Ini sungguh mengingatkan saya pada jaman keemasan Exist, Slam, New Boys, dan band malay lainnya.

itu baru dari segi musik. Selanjutnya film kartun. Ya Upin Ipin lah, apalagi. bahkan di pasar malioboro ada wayang-wayangan bergambar Upin Ipin. mungkin saja pencipta wayang ini ingin melakukan akulturasi antara malaysia dan budaya jawa, sehingga yang tercipta adalah wayang Upin dan Wayang Ipin. Wah, mulia sekali niat pencipta ini. hahaa.. Saya akui Upin Ipin itu bagus dan menghibur serta tepat sasaran juga sarat pesan moral. Malay sekali yang sebenarnya tidak jauh beda dengan kehidupan para anak-anak di daerah medan, riau, dan pontianak. hampir seperti itu. jelas sekali bahwa Upin-Ipin menggeser reputasi si Laptop si Unyil dan acara anak buatan Indonesia. Dan belakangan ini saya lihat ada kartun anak di Global TV yang persis Upin Ipin. REPLIKA. Ya, lagi lagi Malay Minded.

Kemudian, banyak teman-teman saya terutama yang di medan lebih memilih berlibur ke Malay dan Singapura dari pada keliling Indonesia. Saya tidak menyalahkan hal tersebut, Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Nasionalisme. karena ongkos ke Malay lebih murah daripada ke jogja (yeahh, maskapai itu memfasilitasi). Tidak salah kok menurut saya. tapi kadang saya terus bertanya, kok bisa ya? :)

Sedang yang terkhir ini adalah masalah pendidikan. Ini realitas yang ada di mata saya. kampus saya sangat Malaysia Minded sekali. setiap ada kerja sama seperti International joint seminar, Student exchange, Appritice Trip, MoU kerjasama bisa dipastikan kalau itu selalu dengan universitas di Malay. bahkan saat ini, kebanyakan dosen di kampus saya kuliahnya di Malay. Almost!. sejujurnya saya tidak terlalu paham sebenarnya seberapa baguskah pendidikan di sana. benar-benar baguskah, atau kah kita yang hanya ingin sekedar di kenal sebagai kampus yang punya kerjasama luar negeri atau ya memang hingga saat ini itulah yang bisa di capai.
Bisa jadi roda berputar ya, dulu Indonesia di atas tapi sekarang Malaysia lah yang di atas!

Nb: Fotonya saya ambil dari Google!

Tuesday, July 27, 2010

Insomnia Menggila

Lagi, saya tidak bisa tidur. Badan terasa pegal-pegal. Padahal besok pagi jam 7 pagi, saya harus liputan Masa Taaruf (MATAF) mahasiswa baru di kampus. Karena mata ini juga bertahan untuk terbuka, maka mulailah saya memamfaatkan sesi ini untuk bernarsis ria. Terima kasih =)


dan

Dilema Dua Kota

Saat ini saya merasakan betapa sulitnya membuat sebuah keputusan. Masalah saya saat ini adalah mau tinggal dimana setelah lulus. Sebelumnya saya sudah memutuskan untuk memulai karir jurnalistik saya di kota Medan. Dengan alasan selain karir, saya punya cita-cita masa depan di kota itu. Tinggal di Medan adalah sebuah jalan untuk menemui impian itu.

MEDAN (foto ini saya ambil dari google)

Beberapa bulan kemudian saya berpikir ulang. Jika saya harus memulai karir di Medan, saya tidak punya link. Kalau di Jogja saya punya beberapa link, minimal informan yang bisa memberikan informasi tentang lowongan. Saya sudah bangun link di Jogja tepat satu tahun yang lalu. Perlahan saja, tidak perlu terburu-buru. Lalu bagaimana dengan masalah Impian itu? Ah, saya bilang saya percaya kalau rezeki tidak akan kemana.

JOGJAKARTA (foto ini saya jepret sendiri)

Sekarang, menjelang hari ujian pendadaran saya yang bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke 21 saya dihadapkan pada dilema yang mengganggu saya satu minggu belakangan ini. MAU TINGGAL DI MEDAN ATAU DI JOGJA?

Tuhan, ini sungguh membingungkan.
Saya kembali sering berimajinasi tentang tinggal di Medan. Pertemuan-pertemuan tak sengaja dengan wajah kikuk dan mungkin saling menghindar terus tertayang di dalam pikiran saya bahkan saat saya bangun tidur. God, apakah hambaMu ini terkena sindrom atau apalah?
Akhir-akhir ini saya juga merindukan mamak dan bapak. Ingin tinggal dekat mereka saja.

Tapi, saya juga berat jika harus meninggalkan Jogja. Kota yang telah banyak mengajarkan saya tentang banyak hal. Tempat saya mendapatkan dan berbagi ilmu. Tempat saya menikmati sejuknya terik matahari dan hangatnya rintik hujan. Jogja adalah tempat saya tumbuh dewasa secara sikap.

Lantas bagaimana?




ini..

Malam di Tugu Jogja (jepretan saya juga)
atau

ini..

Malam di Medan (saya ambil di Google)

Saya bingung..
Saya ingin tinggal di Jogja namun saya juga ingin tinggal di Medan.

Saya berpikir tentang berbagi dengan seorang yang benar benar mengenal saya dan impress saya terhadap kedua kota ini. Saya butuh diskusi dan saya butuh saran. Tapi saya belum menemukan teman itu. Untuk berdiskusi dengan mamak dan bapak. Saya takut membebani mereka dengan ketidakjelasan masa depan saya ini. Biarlah saya yang memecahkan ini sendiri!

Saturday, July 24, 2010

Balada Joni dan Susi--Melancholic Bitch

Berikut adalah CD pertama yang saya beli setelah selama 3 tahun saya absen membeli CD/kaset original. Saya sangat bangga pernah memiliki CD ini. Sesungguhnya Album ini deskripsi masyarakat pinggiran dan miskin lewat representasi pasangan muda Joni dan Susi. Kemiskinan telah memaksa Dinding propaganda untuk merayu Joni mencuri roti di supermarket karena Susi sakit. Supermarket dan Busung Lapar Adu Lari.

Bagi mereka yang menghantamkan hukuman di wajah Joni yang mencuri roti lewat pukulan massa. Joni masuk tipi karena sebuah roti dalam berita kriminal. Kata Joni, "Susi Aku masuk Tipi. Lihatlah betapa nyata cinta kita kini,"




Butuh Teman yang Seperti Aku!

Akhirnya pada titik ini aku menyerah.
Aku butuh teman!
Bukan teman biasa pastinya. Aku terbiasa menyukai banyak hal.
Aku suka band Indie aku juga suka jazz. Aku suka travelling. Aku (mantan) aktivis namun setidaknya aku masih suka berdiskusi. Aku suka menulis walau masih berantakan. Aku suka membaca walau sering moody masih mendikte. Kadang naluri hedonismeku tidak terbendung, namun untuk menjadi gembel pun bukan masalah bagiku. Aku suka bercerita.

yaa.. aku butuh teman yang seperti aku!

Banyak teman. Namun mereka bukan paket lengkap.
Banyak yang tidak mengerti selera musikku. Banyak yang tidak paham dengan alur pikiranku.

Yaa.. Aku butuh yang mengerti aku.
Sebegitu egoisnya aku atas kebutuhan untuk dimengerti.

Tapi kadang mengerti saja tidak cukup.
Jika dia mengerti, bisa saja dia berpura-pura menjadi seperti aku.
Aku butuh teman yang ketika dia menjadi dirinya sendiri adalah seperti aku.

Betapa menyenangkan ketika kami (aku dan teman harapanku itu) berfilosofi tentang kopi disela sela hirupan aroma asap kopi yang baru saja di sedu. Aku juga akan sangat senang ketika kami menjadi autis melihat ERK, Melbi, SORE, BLP, nonton jazz mben senen, Frau. Kami akan autis tanpa malu orang mau berkata apa..

Kami akan ke Toga mas setiap awal bulan. mengobrak abrik toko. Aku akan bertanya, "Hei kamu apakah buku ini bagus?" Gak, buku yang ini saja.. ooo..ok

Teman yang tidak keberatan dengan nafsu belanjaku yang sangat menggila. Juga teman yang tidak keberatan saat aku menggilai sex and the city.

Teman yang kadar kecuekannya seperti aku..
Dan yang pasti teman yang tidak melupakan aku ketika dia sudah punya PACAR!!
Teman yang tidak akan berubah sikap padaku karena hal-hal terkait dengan pacarnya.
Good!

Ah, terlalu banyak kriteria!

Wednesday, July 21, 2010

Saturday, July 17, 2010

Gamelan brings you relaxation

Peristiwa menonton gamelan ku yang pertama memang tanpa rencana. Awalnya aku datang ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Jumat (16/7) untuk live performance-nya Melbi yang juga pertama kali ku liat. Setengah 8 malam aku nyampe TBY, ternyata padat bgt. Jalanan mulai dari depan soping sampe pasar bering harjo padat. Akhirnya setelah bersusah payah aku pun dapat parkiran.

Masuk ke TBY, dan aku mulai bingung. ini pertama kalinya aku ke TBY dan aku datang ke sini seorang diri (padahal sering ke Soping). TBY dipadati lautan manusia yang mau lihat Art Jogja 2010 dan 15th Jogja Gamelan Festival. Aku bingung Melbi nya dimana ne?

Akhirnya aku keliling, di lantai bawah ada ArtJog, banyak yang dipamerin mulai patung Gusdur, Lukisan, barang-barang distro, dan berbagai macam karya para seniman dan anak muda Jogja khususnya. Aku memang tidak melihat secara detail apa saja yang ada di lantai bawah ini, karena tujuan awalku memang bukan pamerannya namun Melbi-nya. Akhirnya aku naik ke lantai atas. Apaan sih rame-rame? pake bagi2 co Card? trus, yang dikasi co card yang bawa kamera. Aku kan bawa kamera. Aku gak di kasi gak ya?
Ah, Bingung!
Ya wes lah, aku masuk ajalah ke ruang (apa ya namanya) yang biasa untuk nonton teater. Aku gak mau tau, aku pilih tempat duduk di depan, di deretan ketiga. Eh ternyata, ada dua teman lamaku di situ. Mas Indra. Mas Indra ini seorang pelukis lulusan ISI. Lukisannya keren-keren banget. Tapi dia gak mau jual tuh hasil karyanya. Entahlah..

Bahkan ketika aku duduk di bangku penonton itu, aku belum tau pertunjukan apakah yang akan ku tonton. Pikiranku masih simana lah si Melbi ini..Gak berapa lama. MC pun naik, dan aku pun tahu kalau ini adalah pertunjukan musik GAMELAN..

Tuing**
Aku sih belum pernah dengar gamelan secara langsung. Kadang-kadang dengar dari kaset kalau lagi di Mirota Batik, atau di Radio. Sebelum pertunjukan di mulai, MC mengajak ngobbrol seorang pemain gamelan yang katanya senior. Namanya Mas ALEX dengan groupnya KPH X (Kumpulan Pengrawit Heboh Sepuluh) Mengapa Sepuluh? Menurut Mas Alex, ini adalah penampilan kesepuluh KPH di Jogja Gamelan Festival (JGF). Mas Alex mengungkapkan keinginannya bermain Gamelan itu diinspirasi oleh Mas Sapto (Alm) penggagas JGF. Kata Alex, Sapto adalh orang gila. Orang gila yang lebih memilih menjadi seniman di bandingkan bekerja seperti orang kebanyakan.

Penampilan pertaman dibuka oleh KPH X. yang terdiri dari 7 personel Klasik sekali. Gamelan, besi (ato apa y) yang di pukul-pukul mengalun dengan irama yang pada suatu pukulan terasa sangat melengking dan sakit di kuping. Mungkin itu karena aku belum terbiasa kali ya. Namun semakin lama di dengar, aku pribadi merasa sangat relax, sangat santai dan enjoy. Hello World I enjoy Gamelan!!! Gamelan memang tidak bisa mengajak kaki atau kepala bergoyang-goyang. Namun ia menggoda telinga dan pikiran untuk hanyut. Aku jadi teringat salah satu judul penelitian mahasiswa keperawatan UMY tentang gamelan berfungsi sebagi penurun tingkat stress. Aku pribadi tidak tahu MENGAPA bisa begitu. Namun aku merasakan sendiri.




Well, bodohnya aku. Aku baru tahu yang namanya gamelan itu gak ada penyanyinya. Cuma musik doang..*Dodolnya aku :0

Performance kedua dari Kyai Fatahilah dari Bandung dan Ansemble Gending dari Belanda. Pemainnya banyak banget.. Aku hanya melihat mereka membawakan tiga judul lagu. Itu juga aku lupa, tak ku catat judulnya. Ansemble Gending tampil lebih dulu, dari pandangan sok tahu ku, permainan Ansemble Gending tidak seklasik KPH X. Apa karna yang maen bule semua y? hehe.. Ah, tidak meyakinkan spekulasinya, soale KPH X juga ada 2 bule. :D.. Ansembel Gending juga membawakan satu karya ciptaan Komposer Indonesia yang lahir di Belanda, Claudia, dengan judul SILAT.



Penonton di ruangan ini rata-rata anak muda. Kalau lihat keadaan kayak gini, kok bisa ada anggapan bahwa anak muda lebih menghargai karya musik luar negeri. Jelas2 ruangan yang sepertinya bisa menampung 500 orang ini di isi oleh anak muda. Tapi ya banyak anak muda bule juga..hahaha..

Stengah 10, aku putuskan untuk pulang padahal masih ada satu kelompok lagi yang belum performance dan menurut temenku yang ketiga adalah yang paling bagus. Tapi sudah setengan 10 dan aku harus pulang kalau nggak mau tidur di warnet lagi :D

Aku pun turun ke bawah. Sayup-sayup aku dengar ada musiknya 7 hari menuju semesta-Melbi. Huaaa, ternyata ada melbi di bawah.. Gak jadi pulang, Lanjut Nonton yang kutunggu-tunggu, Melancholic Bitch :)


Friday, July 16, 2010

Melancholic Bitch--Great Dystopia

Melancholic Bitch (Melbi) aku kenal pertama kali dari formspringnya efek rumah kaca. Saat ada seseorang yang bertanya, mana yang lebi kuat, melbi atau frau. Menurut Cholil, keduanya sama-sama kuat seperti berada di alamnya sendiri. Namun Melbi lebih kuat. Pada waktu itu, (kira-kira 3 bulan yang lalu) aku cuma tahu Frau. Karena aku penasaran dengan Melbi (secara tidak langsung ini adalah rekomendasi dari Cholil) aku pun membeli CD Melbi Album Balada Joni dan Susi.

Pertama denger, aku memang tidak langsung jatuh cinta. Karena buat aku yang awam musik perlu beberapa kali putaran untuk paham dan suka. Lirik di lagu Melbi sangat filosopis, trus musiknya laksana representasi dunia mereka. (padahal gak ngerti dunia yang gimana :D). It's so them lah pokoke..Namun waktu denger Distopia dimana Melbi berduet dengan seorang Biduan atau mungkin sinden, Silir, sumpah langsung suka..:)

Petikan-petikan kecil gitar elektrik di Mars Penyembah Berhala, itu yang bikin gak kuku..:0
Melbi juga cukup banyak pake sound-sound elektrik.. Ah, cukup. Aku gak bisa deskripsiin detail tentang musiknya (maklum awam).

Kemarin (16/7), pertama kalinya aku liat Melbi nampil secara live di TBY. Soundnya kurang bagus, namanya juga gratisan, ya gak bisa nuntut lebih.. Tapi tetap itu semesta mereka. Atmosfernya kuat banget. Ugoran Prasad memang bernyanyi dengan emosi yang kuat. Meledak-ledak, kadang murung. Karena aku datang telat karena sebelumnya liat konser gamelan, aku cuma dengar Bulan Madu, 7 Hari Menuju Semesta, Distopia, Mars Penyembah, Berhala, Akhirnya Masup Tipi, Menara, dan dua lagu dari Album Anamnesis yang aku belum pernah dengar.

Yang paling ku tunggu tentu saja Distopia. Sinden Silir pun muncul dengan dandanan dan gaya ala penyanyi dangdut yang mampu menyihirku. Kereta Menghatar kita, Menuju semesta Berdua..:)










Wednesday, July 14, 2010

Unsaved Letter

Kapan bisa jumpa lagi bo?
Aku rindu. Malam ini udah gak tertahan lagi bo.
Bahkan tak satu pesan pun terlampir untukku tepat setahun setelah kau menutup telepon perpisahan kita..

Bo, sepanjang malam ini aku denger 'Aku Milikmu'.
Ingatkan bo. Dulu waktu aku ulang tahun ke 19, kau telepon aku dan kau memasang lagu itu untuk kita berdua, dan kita pun tak tahan untuk tak nyanyi.."Jangan dengar kata mereka, Yakinkan aku milikmu," :)). Kau masih ingatkan bo, kita pake lagu itu untuk ringtone kita berdua padahal kita gak ada janjian y bo.

Bo, banyak hal yang ingin ku ceritakan.
Aku sekarang gak ideologis lagi bo. Sekarang aku mulai agak kompromis bo..
Haaaha,, ternyata bener kata orang-orang bo, makin tua makin konservatif.
Sekarang aku udah kerja bo, walaupun cuma jadi reporter magang, tapi seneng rasanya bisa punya duit sendiri bo. Aku bisa beli banyak barang bo. Dulu, kalau aku beli barang pasti kau sering ngejek-ngejek kan..:))..Aku sekarang da beli jam agak mahal pake duitku sendiri bo.. Dulu, kalau kau tahu pasti kau marah, karena aku beli barang gak penting.

Bo, aku udah mulai malas pake DSLR. Soalnya udah banyak yang punya bo. Gak suka. Macam udah barang pasaran ajapun DSLR itu.. Hiihihih.. Ingatkan bo dulu kita berantam karena aku memutuskan untuk pake SONY ALPHA tapi kau paksa aku pake NIKON. Kita beda agama y bo :).. Tapi itu jadi konflik berkepanjangan..

Bo, aku sekarang gak lebay lagii :)).. Dulu kau sering marah karena menurutmu aku Lebay, padahal aku cuma pengen diperhatiin ajaa. Soalnya kau sibuk teruss.. Aku juga sibuk bo, tapi kau jauh jauh jauh lebih sibuk., Inisiasi lah, jualanlah, kuliah dua lah, Medan Movement lah, inilah itulah...Tapi sekarang aku udah gak lebay lagi boo... Kan aku gak punya orang yang bisa di tuntut lagi. :)

tapi Bo, aku sedih. Aku gak punya teman sharing lagi. Dulu kalau ada apa-apa aku pasti langsung SMS kau. Apalagi waktu kami ketangkap di Jakarta habis DEMO BBM. Kau selalu ada 24 jam untuk aku bo, walopun cuma di udara. :)). Sekarang aku gak punya temen cerita dan bertukar pikiran bo :(.. Aku rindu kau Bo..

Aku lagi meniti karirku jadi Jurnalis bo, sekarang tak apalah jadi jurnalis internal. Aku ingat bo, waktu aku magang di Radar. Waktu itu aku mau liputan Aksi GOLPUT di Malioboro. Kau langsung wanti-wanti. "Dedek, ingat ya ini mau liputan bukan mau ikut demo,"..Iya bo. Aku gak ikutt bo.. Tapi aku juga gak milih waktu PILPRES :D
Aku sekarang da bisa nulis berita dengan cukup baik bo, walaupun masih banyak kekurangan di sana sini..

Eh, gimana novel 24.00 lewat mu?
Udah selesai.? Dulukan aku sering nemenin waktu kau nulis...:))

Bo, aku kangen..
Aku tau mungkin sekarang kau udah benci kali samaku.
But, I still love you like since the first time i told you that i want to be your wife with a son named Hujan :))

Ah, Forget it..
You heve not to worry about my feeling.
Yours is more important.

Bo, aku berharap aku bisa bertemu denganmu lagi.
Di jalan juga gak papa..Cuma pengen bilang."Bo, apa kabar?"
Tersenyum dan berlalu..

Ah, sampaikan salam ku pada fitri.
Aku tidak bermaksud mengganggu kalian.
Hanya kangen seperti reuni sekolah.
Sampaikan terimakasihku pada fitri karena dia membangunkanmu setiap pagi untuk kuliah.
Like. I Appraciate her..:))

Tuesday, July 13, 2010

Wishlist.

Wishlist..
Bolehlah sekali-kali aku menuliskan apa yang paling kuinginkan saat ini :)

  1. Lulus Oktober :)) Amiiiinnnn.
  2. Ke Kangean, 2-5 Oktober 2010
  3. Ke Aceh bersama riski armila, habis lebaran.
  4. Ke Malang, ke bandung, dan ke Makasar..:)
  5. Sepeda.
  6. Bertemu Kebo :)

Monday, July 12, 2010

Dari obat anti malas sampai pemahaman mahasiswa tentang neoliberalisme yang ideologis dan praktis

Ah, ternyata obat anti malas dan anti bad mood itu adalah keinginan.
Keinginan untuk tidak malas dan tidak badmood.
Namun ingin saja tidak cukup ternyata, memang harus ada gerak. Bergerak itu yang susahnya naujubille..Untuk bergerak, aku terus berkata dalam hati. 'Ayo jangan malas, Ayo jangan malas'

Satu minggu lagi pertaruhan ini.
Lanjutkan atau harus menunggu kereta selanjutnya.
Aku minta off 2 hari dari kantor. Aku sms 2 bosku di kantor dan belum ada jawaban tentang permintaan off ku ini. Ahh, sudahlah. Aku berada pada titik pemikiran, "Dikeluarin-keluarin deh yang penting ni skripsi selesai,".

Pagi ini dengan segelas kopi aceh plus creamer aku kembali menoktahkan tinta hitam di atas kertas putih berjudul BAB IV dengan judul Persepsi Mahasiswa Hubungan Internasional di Yogyakarta terhadap Neoliberalisme dan MNC di Indonesia.
Banyak kesimpulan yang sudah kudapat dari survey yang kulakukan. Ternyata hampir 50% mahasiswa HI di yogyakarta memandang Neoliberalisme dan MNC bukan sebagai sesuatu yang ideologis namun sebagai sesuatu yang praktis. Kebanyakan mahasiswa menolak Neoliberalisme namun mendukung MNC dengan alasan bahwa MNC memberikan peluang kerja bagi masyarakat dan membantu perekonomian Indonesia.

Kalau secara ideologis, yang menolak Neoliberalisme maka akan menolak MNC. Itu teori awalku. Ternyata mahasiswa banyak yang menolak Neoliberalisme namun mendukung MNC.

Aku gak tahu, apakah kepraktisan mahasiswa ini memang di dasarkan pada pemahaman yang kuat dengan melihat realita keberasaan MNC atau hanya melihat MNC dari permukaan.
Atau memang pemahaman yang kurang.

Ntah lah..
Yang penting sekarang lanjut ngetik lagi...:D

Ada yang jual obat anti malas dan anti bad mood gak?

Extensa 4620 ku tak berhenti merodi mulai dari tadi pagi. Padahal, I do nothing kecuali buka fb, ym, fb, ym lagi dan pasang lagu-lagu jazz. Ah, hari yang sia-sia. cuma dilewati dengan hal yang gak essensial plus badan yang gatal-gatal.

Padahal ada pertaruhan di depan mata.
Ya seminggu yang menentukan. Minggu ini, katanya terakhir pendaftaran pendadaran untuk wisuda oktober. Wisuda oktober?
Ya, itu yang ku janjikan pada kedua orang tuaku. Sebagai anak yang tau diri dan hanya memiliki uang pas-pas an aku diperintahkan untuk segera menyelesaikan kuliah.
So, Skripsi ku masih bab IV dan aku harus menyelesaikannya hingga bab V serta ACC Doping dalam seminggu ini?
Can I?

Well, sebenarnya permasalahannya bukan bisa tidaknya aku ngerjain skripsiku. It's easy. Skripsi ku ambil metode kuantitatif. Di Jurusah HI UMY yang telah menetaskan puluhan ribu mahasiswa dan alumni, aku adalah mahasiswa kedua yang menggunakan metode tidak wajar di prodi HI. Dataku Insya Allah lengkap. Hasil penelitian udah ku rekap dan sudah dalam bentuk persentase. So What?
Aku malas!!! Bahkan hanya untuk mengetikkannya.
Masalah sepele bukan?
Masalahnya tidak essensial namun konkrit dan memberikan efek parah.

Wooiii, ada gak jual obat malas dan bad mood di sini.
I need it NOW!!!
Waktuku tinggal satu minggu..
Kok kayaknya The power of Kepepet belum berlaku di keterdesakanku ini?
Aku masih MALAS!!

Kalo gak bisa lulus oktobor maka terncam lulus februari. And I don't want it. Nanti bisa di kutuk jadi batu aku sama 'boss'ku..
Hufff..

Ada yang jual obat anti malas dan anti bad mood gak?
Butuh cepat.

Sunday, July 11, 2010

Acak dan Tolong Berhenti

BERHENTI!!!!!
Pengen bumi berhenti berotasi biar waktu juga diam. Semuanya diammmmmm!!!
Berhentiiiiii!!!
Penat.
Mau berhenti Kerja..
Mau berhenti jadi mahasiswa..
Mau berhenti jadi aktivis..
Mau berhenti jad tukang foto..
Mau berhenti jadi reporter..
Mau berhenti jadi aku..

PENAT!!
BUNTU!!

Pliss God.
Give me any medicine..
Aku lelah dengan ketergantungan..
Bisakah aku menjadi center..
Tak selamanya jadi peri-peri atau pun semi peri peri.
Ah, tidak ada yang baik dari ketergantungan..

Lalu,
Aku ingin kau kembali..
Itu saja!!!

Kau tau aku ada di distopia sejak ledakan itu..
Berhambur menjadi entah kemana.
Tidak lagi menjadi utuh..
Aku rindu.
Itu saja!!

Aku tidak bisa menjadi bijak..
Tanpa kau yang sesungguhnya lebih bijak..

Saturday, July 3, 2010













Ketika orang-orang berlomba - lomba belajar bahasa asing untuk menjawab tantangan dunia kerja(katanya) maupun globalisasi aku malah tertarik belajar bahasa Indonesia. Ketertarikan untuk mempelajari bahasa Indonesia ini memang dimotivasi oleh efek rumah kaca yang dalam liriknya menggunakan lirik bahasa Indonesia yang agak berbeda dari yang lain.

Jujur saja, banyak kata dalam bahasa Indonesia yang tidak ku ketahui. Terlebih bahasa Indonesia juga harus produktif mengeluarkan kata baru seiring dengan dorongan kebutuhan atas hal tersebut. Seperti mouse komputer yang bahasa Indonesianya adalah tetikus, download=mengunduh, bluetooth aku belum tahu apa bahasa Indonesianya.

Banyaknya ketidaktahuan kata-kata inilah yang menjadi dasarku untuk sering membuka KBBI online (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/)..
coba artikan ini..

Rima?
Derai?
Larik?
Gigir?

Mungkin lebih mudah bagi kita untuk memahami bahasa indonesia serapan dari bahasa asing seperti afeksi, interpretasi, kompensasi, intimidasi, provokasi..

Semakin ke sini, aku semakin suka berburu kata di KBBI. Karena pada akhirnya ada satu kepuasan saat aku tahu kata bahasa Indonesia yang jarang digunakan oleh orang kebanyakan. Mungkin orang tertawa ketika tahu aku hanya membuang waktu untuk mencari kata baru di kamus bahasa indonesia sementara yang lain memegang kamus inggris-indonesia, indonesia-jerman, indonesia-jepang, indonesia-prancis, atau indonesia-arab.



Ah, jangan anggap ini sebagai gerakan anti bahasa asing, hanya saja aku melihat bahasa indonesia sebagai hal seksi yang jarang tersentuh. Seperti pantai-pantai berpasir putih di Wonosari yang masih perawan dan jarang tersentuh itu...:D

Sumber Foto:http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/new_page_5.htm

Thursday, July 1, 2010

Medical Jazz FK UII

Frau





Gleen F












Marcel






Andien






Jasmine